Iklan
Iklan - scroll ke bawah untuk lanjut membaca
Iklan

Tradisi Sedekah Bumi Dusun Ngantru: Wujud Syukur dan Pelestarian Lingkungan di Desa Sekaran, Kasiman, Bojonegoro

Manganan Dusun Ngantru

Bojonegoro - Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, masyarakat Dusun Ngantru, yang terletak di wilayah teritorial Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, yang secara administratif merupakan bagian dari Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, memiliki tradisi tahunan yang hingga kini masih lestari, yaitu Sedekah Bumi. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan berkah alam.

Latar Belakang dan Makna Tradisi

Masyarakat Dusun Ngantru menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian dan pemanfaatan sumber air yang berasal dari dua sendang (mata air) yang ada di wilayah tersebut, yaitu Sendang Lor dan Sendang Kidul. Kesadaran akan ketergantungan hidup pada alam melahirkan tradisi Sedekah Bumi sebagai bentuk hormat dan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia kesuburan tanah dan ketersediaan air.

Sedekah Bumi di Dusun Ngantru tidak dimaknai sebagai ritual pengorbanan kepada penguasa gaib, melainkan sebagai sarana bersyukur, berbagi, dan membersihkan lingkungan. Para tokoh agama dan perangkat desa telah mengarahkan esensi tradisi ini ke dalam nilai-nilai spiritual dan sosial yang sesuai dengan ajaran Islam, sehingga terhindar dari unsur-unsur kemusyrikan.

Rangkaian Prosesi

Pelaksanaan Sedekah Bumi di Dusun Ngantru biasanya digelar setahun sekali pada awal musim kemarau, setelah masa panen usai. Rangkaian kegiatan diawali dengan kerja bakti membersihkan kedua sendang serta lingkungan sekitarnya. Kegiatan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat secara gotong royong.

Puncak acara dilangsungkan di area sendang dengan prosesi pengarakkan gunungan. Gunungan tersebut berisi berbagai hasil bumi, seperti padi, jagung, ubi kayu, buah-buahan, serta aneka jajanan pasar. Seluruh isi gunungan merupakan wujud simbolis dari kelimpahan yang telah diberikan oleh alam.

Setelah gunungan tiba di lokasi sendang, dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh dusun atau tokoh agama. Doa tersebut berisi permohonan keselamatan, keberkahan, serta dijauhkannya warga dari bencana. Tidak ada sesajen atau mantra-mantra khusus yang bertentangan dengan syariat. Seluruh rangkaian lebih menekankan pada nilai kebersamaan dan ketakwaan.

Usai doa, gunungan dibagikan kepada seluruh warga yang hadir. Proses rebutan gunungan justru menjadi momen yang merekatkan hubungan sosial karena dilakukan dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan. Makanan yang diperoleh kemudian disantap bersama di lokasi sendang.

Tidak hanya warga setempat, acara ini juga dihadiri oleh pengunjung dari luar dusun. Suasana semakin semarak dengan kehadiran puluhan pedagang makanan dan mainan yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju sendang. Iring-iringan prosesi biasanya berpusat di bawah pohon beringin besar yang diperkirakan berusia ratusan tahun, tempat mata air jernih mengalir dari sungai di atasnya.

Wujud Syukur dan Harapan

Bagi warga Dusun Ngantru, Sedekah Bumi memiliki makna yang mendalam. Sunarso, Kepala Desa Sekaran, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah agenda tahunan yang dikoordinir oleh Kepala Dusun Ngantru.

"Ini adalah wujud rasa syukur warga Dusun Ngantru atas limpahan nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Kami diberikan anugerah bumi yang subur dan air yang tak pernah habis," ujar Sunarso selaku Kepala Desa.

Nilai-Nilai yang Terkandung

Beberapa nilai penting dapat dipetik dari tradisi Sedekah Bumi di Dusun Ngantru, antara lain:

1. Nilai Spiritual
Tradisi ini mengingatkan masyarakat bahwa segala hasil yang diperoleh berasal dari Tuhan, sehingga patut disyukuri melalui doa dan perbuatan baik.

2. Nilai Ekologis
Pembersihan sendang sebelum acara menunjukkan kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian sumber air. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa bumi perlu diberi "sedekah" berupa perawatan, bukan hanya dieksploitasi.

3. Nilai Sosial
Sedekah Bumi menjadi ajang silaturahmi antarwarga, termasuk mereka yang merantau dan pulang kampung. Kebersamaan dalam bekerja bakti, berdoa, dan makan bersama memperkuat solidaritas sosial.

4. Nilai Ekonomi
Acara tahunan ini turut menggerakkan perekonomian lokal karena banyak pedagang makanan dan mainan yang ikut meramaikan sekitar lokasi sendang.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Seiring perkembangan zaman, tradisi Sedekah Bumi di Dusun Ngantru menghadapi tantangan berupa pergeseran nilai dan berkurangnya minat generasi muda. Namun, hingga saat ini tradisi tersebut masih bertahan karena peran aktif para pemuda dan dukungan penuh dari Kepala Desa Sekaran serta tokoh masyarakat.

Harapan ke depan, Sedekah Bumi tidak hanya dipertahankan sebagai ritual tahunan, tetapi juga dikemas menjadi agenda wisata budaya yang dapat memperkenalkan kearifan lokal Bojonegoro kepada khalayak luas. Dengan tetap menjaga kemurnian maknanya, yakni syukur, gotong royong, dan cinta lingkungan, tradisi ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Penutup

Sedekah Bumi di Dusun Ngantru, Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, merupakan contoh nyata bahwa tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan dapat berjalan beriringan. Tradisi ini tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mengajarkan manusia untuk hidup harmonis dengan alam dan sesama. Dengan pengelolaan yang tepat, Sedekah Bumi berpotensi menjadi salah satu ikon budaya Bojonegoro yang membanggakan.

Tersalin 👍
Imam Al Ghazali
Imam Al Ghazali
Blogger and Kreator Digital

Posting Komentar

Iklan
Iklan